EXPEDISI MERAPI MERBABU "M4"
Diposting oleh akhmad nantang perkoro , Kamis, 09 Februari 2012 05.07





Liburan pun menjadi salah satu cara membuang rasa penat dan jenuh dalam diri. Teman – teman sejati selalu mendampingi, ketika suka dan duka berada dalam diri, arungi hidup bersama. Indahnya alam patut kita jaga kelestarianya demi anak cucu kita.
Pada tanggal 16-18 September 2010 tahun lalu, anak-anak Pramuka (GreenScout) mengadakan expedisi 2 gunung. Istilah jawanya M4 yaitu Mangkat-MERBABU-MERAPI-Muleh. Ckkkk... :D
Pendakian massal MERBABU-MERAPI yang diprakarsai oleh anak-anak GREEN SCOUT "alumnus SMADA ngawi" melahirkan 10 jiwa yang siap tempur ke medan perang, yaitu saya, Akhmad Nantang Perkoro (@dha) dari XII ips3 yang mempunyai ide mengarang laporan perjalanan ini, Changgih (bebek cinta merpati putih) dari XII IPS 3 yang mengetik, mengedit, menambahi yang kurang, dan melebai-lebaikan laporan perjalanan ini, Aulia (Mantho kothot/security elit militer) dari XII IPS2, Angga (@ng) dari XII IPS 2 selaku ketua panita dalam kegiatan ini, Handoko (Cepe/jendral tienpeng) dari XII A3, Arif (mbutel/pasti arif/etnic run away) XII S1, Fitra TAMA/ versi arabia "saat itu pakai jilbab" (XII A5), Fery (XII A5) selaku bendahara KRISMON, TATA PMR/teknisi perbekalan (XII A4), dan Nggotil/unyu unyu (Rony Wicaksono) dari XIIA5.
Pagi pukul 04.00 kami berangkat dari Ngawi menuju tempat tujuan. Di tengah perjalanan di daerah Solo kami mengisi perut yang kosong. Tak lupa si Kuda Besi pun ikut-ikutan lapar dan dahaga. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dengan semangat menggebu-gebu, yakin, dan bertekat bulat. Pukul 11.00 kami tiba di basecamp pendakian Merbabu, tepatnya selo (Boyolali). Setibanya disana kami disambut oleh derasnya hujan, kencangnya angin, dan gelapnya mendung. Tampaknya alam tidak begitu bersahabat dengan kita. Tiga jam telah berlalu, tapi hujan tak kunjung reda. Akhirnya kita nekat menjalani track yang begitu terjal dan licin dengan Jas Hujan. Tak lupa kami melakukan Shalat Dhuhur dan berdoa untuk Memohon Keslamatan dan Mendapatkan Ridho dariNya.
Mulai pukul 13.00 kami meninggalkan basecamp Merbabu, menapaki jalan setapak yang licin ditengah hutan merbabu yang ramai dengan suara merdu hewan-hewan liar. Hujan yang Mengguyur tubuh tak mampu memadamkan api semangat membara dalam hati. Akan tetapi kami harus tetap waspada dan berhati-hati karena kondisi jalur yang kita lewati penuh dengan tebing dan jurang yang berbahaya. Tak jarang kami terpeleset dan jatuh karena jalan yang begitu licin yang disebabkan guyuran hujan, tapi rasa kebersamaan menolong jiwa dan raga kami. Tas karier yang berat dan penuh dengan logistik, peralatan, dan barang bawaan membuat kondisi fisik dan tenaga mulai drop. Tetesan air hujan dan udara dingin menemani kaki-kaki besi yang mulai kram. Akhirnya kami putuskan untuk Nge-camp di SABANA 1 pukul 16.30. Kami istirahatkan kaki-kaki besi yang mulai berkarat, dan tak lupa kita tunaikan ibadah yang ditemani gerimis rintik yang tak henti-hentinya. Rembulan yang indah ditemani para bintang kejora mulai muncul ketika hujan telah berhenti. Tak lupa secangkir kopi hangat kita bagi bersama dengan menikmati Indahnya Lampu kota Boyolali dan sekitarnya. Tak jarang kata canda dan tawa menghangatkan suasana dinginya Gunung Merbabu yang menusuk tulang. Setelah itu kamipun terlelap tidur ditemani mimpi indah menanti esok hari.
Jumat, 17 September pagi, Mentari memancarkan sinarnya di ufuk timur. Kehangatanya mulai terasa, udara dingin pun hilang dengan sendirinya tergantikan semangat dengan kondisi yang prima. pagi itu tersontak terpecah dengan tawa liar kami, aku "akhmad widada" saat itu terbangun mendengar keramaian jalan setapak itu. gelap masih terasa tak mampu melihat sejengkal mata. hanya suara suara ramai, aku kira saja teman temanku. akupun berteriak "whoy.....!!!! enteni aku" langsung saja Q hampiri mereka aku kira temen temen grenscout dengan penuh kegelapan pagi buta. sontak aku kaget ada pertanyaan muncul didepanku "kowe iki sopo???" akupun malu ternyata bukan temen temen grenscout tapi para pendaki lainnya.yang aku mangkelin adalah ternyata anak anak grenscout rombonganku masih tidur pulas di tenda "dum" wkakakkakakak mangel, marah, malu dan tawa muncul di pagi itu didalam tenda dum.. lantas kami bangun dari dum karena mentari sudah mulai bangun dari ufuk timur. Kami ingin mengisi energi dgn memasak nasi dan lauk Sarden, tempura rebus, dan telur asin. Energi pun telah terisi di tubuh kita setelah kita memakanya. Puncak yang terlihat batang hidungnya menambah semangat kami untuk mendakinya. Kami tinggalkan camp lalu menuju Puncak Kenteng Songo Merbabu di ketinggian 3124m di atas permukaan laut. Bagaikan terbang kami berdiri di atas awan yang indah. Cuaca yang buruk berganti dengan pemandangan indah ditemani bunga bunga awan putih di bawah kaki kita. Pukul 07.30 kami tiba di puncak kenteng songo, puncak Gunung Merbabu. Tak lupa kami mengabadikan diri dalam sebuah lensa 2.0 mega pixels sebagai kenang kenangan, karena hanya itu saja yang dapat kita ambil sebagai kenang-kenangan. Itu disebabkan karena kita terikat pada 3buah peraturan. 1. Dilarang mengambil apapun kecuali gambar. 2. Dilarang meninggalkan apapun kecuali jejak.l 3. Dilarang membakar apapun kecuali semangat. Setelah puas berada di atas, kami pun beranjak turun menuju basecamp. Tak lupa kita berterimakasih kepada Sang Pencipta dengan doa yang terucap dalam hati. Kami turun dan menyusuri jalan jalan yang banyak kita jumpai botol-botol plastik, dan kami pun memungutinya satu per satu agar keasrian alam Merbabu tetap terjaga. Maklum, kita di sana tidak hanya untuk bersenang-senang saja, tapi kita membawa misi menyelamatkan alam. Walaupun kita sadar kalau tindakan kita itu tak akan berhasil membersihkan Merbabu, setelah bersih pasti ada saja pendaki yang membuang sampah sembarangan. Walaupun begitu segala sesuatu yang baik akan sangat baik jika dimulai dari diri sendiri. SUMBANGSIHKU TAK BERHARGA TAPI KEIKLASANKU NYATA, perbuatan baik sekecil apapun, jika kita melakukanya dengan iklas dan sungguh-sunggguh pasti akan ada hasilnya, dan kami meyakini itu. Pukul 12.30 kami tiba di basecamp Merbabu, kami bersih diri dan melakukan Shalat Dhuhur untuk menggantikan Shalat Jumat yang terlewatkan. Setelah itu kami tancap gas kuda besi kami menuju basecamp pendakian Gunung Merapi. Sesampainya di sana, kami membeli makanan berupa nasi baerlauk telur ceplok dan kering yang begitu terasa nikmat di lidah kami. Rasa lelah yang melanda jiwa dan raga memaksa kita untuk beristirahat dan memejamkan mata.
Nah sekarang ganti mas Bebek(Changgih) yang melaporkan. Merbabu sudah didaki, tapi Merapi sudah menanti. Sabtu 18 Sebtember pukul 05.00 kami mulai berangkat menuju puncak. Rasa lelah membuat kaki serasa tak mau digerakan, namun jiwa yang luar biasa membuat semangat kami mulai berkobar. Kami susuri jalan setapak dengan membawa minum dan jas hujan yang berada di dalam beberapa tas depack(kecil), karena tas karier kami titipkan di basecamp. Mulai pukul 06.00 kami mulai menjumpai jalan setapak yang begitu terjalnya. Bagaikan Rock Climbing, Tangan dan kaki semua bergerak mencengkram dinginya batu besar Merapi yang EXTRIME. Lagi-lagi hujan menemani langkah kami. Tapi untung saja kita tak lupa membawa jas hujan. hutan, lembah, naik turun bukit kami lewati dengan perasaan gembira. Tercium bau belerang yang menusuk hidung yang mulai memerah. Tetesan keringat mengucur deras dengan nafas terengah-engah melewati makam para pendaki yang tewas karena keganasan Merapi. Dari sumber yang saya baca Merapi merupakan salah satu dari gunung paling ganas di Dunia.. Alhamdulillah,,,, AllahuAkbar.... Hujan yang turun tergantikan oleh hangatnya sinar mentari. Gunung Merbabu yang semula tertutupi kabut, kini sudah mulai terlihat dari gunung Merapi..Pada pukul 09.00 ucap Syukur kami Panjatkan karena kita telah sampai di Puncak Garuda di 2965m di atas permukaan laut. Rasa haru dan bangga mulai terasa dihati. Terdengar suara Akhmad Widada berterriak :@i love you D***(sensor) menggelegar memecah kesunyian di hari itu. Setelah kami puas berpose mengabadikan diri di atas awan dan pedihnya asap belerang , kami turun ke kawah mati untuk membuat tulisan batu Bertuliskan GREENSCOUT @15. Setelah itu kami ke kawah Woro untuk mengabadikan diri di tengah panasnya dapur maghma Gunung Merapi.
Asap belerang memaksa kami untuk turun dari Puncak 2965m DPL. Jalan yang terjal gampang sekali longsor membuat kami harus berhati-hati. Tak jarang batu kerikil yang kecil dan sedang mengenai kepala kami akibat longsor yang ditimbulkan teman – teman di belakang yang tidak hati-hati. Karena anggota ada yang sakit maka kami harus atur posisi. Saya Changgih(bebek) dan Ang ada di belakang sebagai tim sapu ranjau, dan Akhmad Widada berada di depan sebagai Caraka. Di tengah perjalanan, yang sakit mulai kelaparan dan kehausan. Kami pun sudah mulai kebingungan. Saya kawatir jika teman saya yang sakit akan pingsan. Dan AlhamdulillahirobilAlamin, saya melihat sepasang insan orang Asing yang mendaki menuju Puncak berperalatan lengkap dan safety reading berada di depan saya. Saya berteriak,” Hay Mister, Hay madam... Do you have any more drink water and food..? may i ask some for my friend,please,,, he were sick,,,, kemudian dia menjawab,” yes i have,,, i’ll help you,,,, wait me.... still there....!!” Alhamdulillah akhirnya teman kami tertolong dengan roti dan air pemberian Bule dari negara tempat mas Suka Pradita pernah singgah tersebut. Sambil Istirahat, kami sempatkan waktu untuk berfoto dan bercakap-cakap dengan mereka. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke base camp. Pukul 14.00 kami tiba di basecamp dengan selamat. Walaupun rasa lapar telah mendera, tapi kami segera packing dan meluncur ke Ngawi dengan rasa bangga, membawa cerita dan pengalaman yang tak terlupakan. Sebuah kenangan Indah bersama TEMAN SEJATI YANG SELALU ADA DALAM SUKA MAUPUN DUKA..
AKHMAD WIDADA/@DH4 DAN CANGGIH/BEBEK

